Jaga Pandangan Kok Milih Milih?
“Kalo mau jaga pandangan itu jangan milih-milih, dumeh Ikhwah terus jaga pandangannya juga cuma sama ikhwah aja?” “Maksudnya Mbak?” tanyaku sembari membenarkan posisi dudukku, menatap matanya yang bersiap mengawasiku. “Iya jangan pilih-pilih, kalo sama Ikhwah di organisasi LDK or LDS bisa Ghodul Bashar sampe nunduk banget, kalo rapat pake hijab, ngobrol juga tak menatap langsung, menjaga sekali interaksinya, giliran ketemu tukang siomay atau tukang sayur di depan rumah bebas menatap dengan seenaknya, berinteraksi sekenanya. Itu baru sama penjual-penjual keliling, belum lagi sama teman-teman dikelas misalnya, atau teman-teman di berbagai komunitas yang kamu ikuti Ambalan, HIMA, BEM, apalah itu namanya. Ya Mbak nggak bilang semua aktivis LDK/LDS seperti itu Nduk, hanya sebagai pengingat saja kalo perintah untuk ‘menjaga’ itu tidak memiliki standar ganda”. Jleb! Tetiba rasanya tertampar langsung kata-kata Mbakku itu. Aku masih tertegun menyimak kata-kata Mbakku yang keluar deng...